Zahra meraba dahi kedua putranya beegantian. “Kenapa tiba-tiba demam?” Arvin mencoba tetap tenang. “Mungkin cuma masuk angin.” Namun ia sendiri tidak terdengar sepenuhnya yakin. Zahra mengambil termometer digital dari laci kecil di meja. Beberapa detik kemudian angka muncul. Zahra menelan ludah. “Arka 38,5.” Arvin langsung berdiri lebih tegak. “Rafa gimana?” Zahra memeriksa lagi. “38,3.” Tangisan kedua bayi itu terus berlanjut. Zahra mulai mengayun tubuhnya pelan, mencoba menenangkan. “Shhh… mama di sini…” Namun bayi itu tetap rewel. Wajah Zahra mulai terlihat cemas. “Mas, ini nggak biasanya mereka gini.” Arvin berjalan mondar-mandir kecil di kamar sambil menggendong bayi yang juga terus menangis. Ia menatap Zahra. “Kita bawa ke rumah sakit aja.” Zahra langsung mengan

