Bau lembap bercampur besi berkarat memenuhi udara di lorong penjara itu. Lampu neon yang menggantung di langit-langit berkelip sesekali, memancarkan cahaya pucat yang membuat segalanya tampak lebih dingin dari seharusnya. Di salah satu sel di ujung lorong, Nico duduk bersandar pada dinding beton. Tangannya terlipat di depan da-da. Tatapannya kosong, menatap lurus ke jeruji besi yang memisahkannya dari dunia luar. Beberapa bulan lalu, ia adalah seseorang yang selalu berjalan dengan kepala tegak di ruang sidang. Kini, ia bahkan tidak bisa berjalan bebas melewati pintu ini. Suara langkah sepatu sipir terdengar sesekali di lorong. Kadang disertai bunyi kunci logam yang beradu. Namun Nico hampir tidak memperhatikan. Pikirannya berada jauh di tempat lain. Di ruang sidang. Ia masih bisa

