Ryujin sama sekali tidak menaruh curiga apa pun ketika pelayan rumah masuk ke ruang tengah sambil membawa sebuah paket berukuran sedang. Kotahknya dibungkus rapi dengan kardus cokelat polos, tanpa pita, tanpa kartu ucapan yang mencolok. Hanya ada nama penerima tertulis jelas di bagian atas. Ryujin. “Bu, ini ada paket. Tadi diantar kurir,” ucap pelayan itu dengan sopan, suaranya rendah agar tidak mengganggu Jasmine. Ryujin yang sedang duduk di sofa, memangku Jasmine yang menyusu dengan tenang, mengangguk pelan. Wajahnya terlihat santai, bahkan sedikit lelah, tapi damai. “Taruh saja di meja,” katanya lembut. Pelayan itu menuruti, meletakkan paket di atas meja kopi, lalu melangkah pergi tanpa banyak bicara. Ryujin menunduk, memperhatikan Jasmine yang kini mulai melambat hisapannya. Mata

