Julian memarkirkan mobilnya dengan kasar di depan rumah. Mesinnya bahkan belum sepenuhnya mati kbetika matanya langsung menangkap satu hal yang membuat rahangnya mengeras seketika. Mobil Porsche hitam itu. Terparkir tidak terlalu jauh dari rumahnya. Posisi yang terlalu disengaja untuk disebut kebetulan. Sudutnya menghadap ke rumah, seakan pemiliknya memang ingin memastikan siapa pun yang keluar akan melihatnya. Darah Julian mendidih. Tangannya masih menggenggam setir, urat-urat di punggung tangannya menegang. Ia tidak perlu bertanya lagi. Tidak perlu memastikan. Nalurinya sebagai suami langsung berteriak keras di dalam kepalanya. Itu dia. Siwon Kim. Julian membuka pintu mobil dengan satu gerakan cepat. Langkahnya panjang, tegas, tanpa ragu. Setiap langkahnya mengandung amarah yang d

