Julian 08

1683 Words

Lampu-lampu neon klub malam itu berputar pelan, memantulkan warna ungu dan biru ke seluruh ruangan. Musik berdentum, membuat lantai seperti bergetar lembut. Julian duduk di meja VIP bersama dua klien penting dari luar negeri. Suaranya stabil, sikapnya tenang, tapi matanya… tidak bisa berhenti melirik ke segala arah. Mungkin intuisi. Mungkin firasat. Atau mungkin, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang sejak pertemuan terakhir itu — sejak tatapan Ryujin menghantui kepalanya seperti bayangan yang tak mau pergi. Julian memutar gelas whiskynya, menggeser sedikit kursinya, seolah sedang mengecek situasi. Tapi sesungguhnya, dia mencoba mencari sesuatu yang bahkan dia sendiri tak mau akui. Dan ketika matanya berhenti pada satu titik — napasnya terhenti. Ryujin. Gadis itu duduk sendiria

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD