Pagi di vila itu datang dengan suasana yang jauh dari tenang. Langit cerah, cahaya matahari masuk lewat jendela besar ruang tengah, tapi dua lelaki dewasa yang biasanya terlihat paling kuat justru terkapar menyedihkan di sofa. Julian terbaring miring, satu tangan menekan perutnya. Geo di sofa seberang, posisi telentang dengan bantal menutup sebagian wajahnya. Wajah mebreka sama-sama pucat. Dan yang paling parah—kamar mandi sudah seperti medan perang sejak subuh. “Ini… bukan… pagi yang baik,” gumam Geo pelan, suaranya nyaris habis. Julian menghembuskan napas berat. “Aku sudah ke kamar mandi… enam kali.” “Baru?” Geo menurunkan bantal dari wajahnya. “Aku tujuh.” Mereka saling pandang. Lalu sama-sama mengerang. Dari dapur, Luna dan Ryujin berdiri kaku. Di tangan Ryujin ada secangkir teh

