Malam mulai turun perlahan, menyelimuti rumah itu dengan suasana tenang yang hangat. Lampu-lampu menyala lembut, menciptakan bayangan samar di dinding ruang keluarga. Jasmine sudah kembali bermain di karpet dengan bonekanya, sesekali tertawa kecil sendiri, sementara Ryujin duduk di sofa dengan posisi nyaman, satu tangan masih setia mengusap perutnya. Namun kali ini— wajahnya terlihat berbeda. Tidak kesal. Tidak manja. Tapi… sedikit murung. Julian yang duduk di sampingnya memperhatikan perubahan itu sejak beberapa menit lalu. “Kamu kenapa?” Ryujin tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ke depan. Beberapa detik. Lalu menghela napas pelan. “Aku bosan…” Julian mengangkat alis. “Kamu sudah mengatakan itu berkali-kali.” Ryujin menggeleng kecil. “Ini beda.” Julian menatapnya.

