Julian 226

1414 Words

Pintu rumah terbuka lebih lebar saat langkah kaki terdengar semakin jelas dari luar. Suasana ruang keluarga yang tadi hangat mendadak berubah menjadi lebih hidup, seolah ada energi baru yanhg masuk bersama angin malam. Luna melangkah masuk. Begitu matanya menangkap sosok Ryujin di sofa— ia langsung berhenti. Beberapa detik. Matanya membesar. Lalu— “Ryujin!” Tanpa menunggu lagi, Luna berjalan cepat, hampir berlari. Ryujin yang melihat itu langsung tersenyum lebar, matanya ikut berbinar. “Luna!” Dan dalam hitungan detik— Luna sudah berada di depannya. Memeluknya. Erat. Sangat erat. “Ya ampun… kamu…” Suaranya bergetar sedikit. Ryujin tertawa kecil di dalam pelukan itu. “Pelan… aku masih hamil…” Luna langsung sedikit melepas pelukannya, tapi tetap memegang bahu Ryujin. “Ma

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD