Julian 26

2678 Words

Julian menatap jauh ke arah lampu-lampu kota yang berpendar di bawah sana, seolah menjadi hamparan bintang palsu yang berkedip dengan kesombongan. Angin malam menerpa wajahnya, membawa serta dingin yang tidak seberapa dibandingkan dinginnya amarah yang sedang ia tahan di dadanya. Cerutu di jarinya menyala merah ketika ia menghisap dalam-dalam, lalu menghembuskan asap yang melingkar pelan ke udara, seakan menjadi simbol dari pikirannya yang tidak pernah stabil sejak Andrew muncul kembali dalam hidupnya. Julian terkekeh pelan. Sebuah tawa sinis, penuh penghinaan, penuh ancaman yang sudah meletup-letup sejak sore tadi. "b******k itu pasti merasa menang," gumam Julian, suaranya rendah namun penuh muatan amarah. "Pasti dia pikir dia sudah menyentuh hidupku, menyentuh wanitaku, menyentuh sesua

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD