Julian 25

2338 Words

Andrew berjalan mondar-mandir di dalam gudang tua itu, langkah sepatunya bergema di ruangan kosong yang masih menyimpan hawa pertemuan semalam. Pistol yang tadi ia acungkan pada kepala Julian kini tergeletak di meja, namun pikirannya masih penuh dengan rasa frustrasi, dendam, dan obsesi bertahun-tahun yang tidak pernah mati. Ia menghentakkan tinjunya ke dinding, debu berjatuhan dari retakan-retakan tua. Napasnya terengah, bukan karena kelelahan, melainkan karena amarah yang tidak menemukan muaranya. Ia menghabiskan belasan tahun hidupnya untuk memburu Julian, berkompetisi dengannya dalam setiap misi, berusaha mengungguli namanya dalam daftar pembunuh bayaran paling berbahaya di dunia. Namun Julian selalu selangkah di depan. Lebih cepat. Lebih bersih. Lebih tepat. Lebih… ditakuti. Andrew

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD