Julian 170

2657 Words

Arman berdiri di dekat salah satu pilar besar di lantai dasar mall, sebagian tubuhnya tertutup bayangan papan iklan. Dari tempat itu, ia bisa melbihat dengan jelas keluarga kecil yang baru saja masuk lewat pintu utama. Julian mendorong stroller Jasmine. Ryujin berjalan di sampingnya, sesekali menunduk untuk membenarkan posisi tangan kecil putrinya yang sibuk memegang mainan. Mereka tidak terlihat seperti dua orang yang baru saja diguncang kabar buruk. Tidak ada jarak. Tidak ada wajah dingin. Tidak ada langkah yang kaku. Mereka tampak… normal. Bahkan lebih dari itu—mereka tampak nyaman. Rahang Arman mengeras. Tangannya mengepal tanpa ia sadari. “Sialan,” gumamnya pelan. Ia sudah memastikan Dara mengirim foto itu. Ia sendiri yang memberi isyarat agar momen itu dipakai. Ia menunggu reaks

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD