Arman duduk di salah satu sudut lounge yang redup, jauh dari keramaian. Lampu-lampu kecil di dinding memantulkan cahaya hangat di gelas-gelas yang tersusun rapi di rak. Di depannya, seorang wanita berdiri dengan sikap santai, pakaiannya mencolok, riasan nya rapi, dan caranya menatap—percaya diri. Arman menatapnya tanpa senyum. Bukan karena tidak tertarik, melainkan karena ia sedang menghitung langkah. “Namamu?” tanyanya singkat. “Dara,” jawab wanita itu ringan. Arman mengangguk. Ia mengeluarkan amplop tebal dari saku jasnya dan meletakkannya di atas meja kecil di antara mereka. Tanpa membuka, ia mendorongnya sedikit ke arah Dara. “Dua puluh lima juta,” kata Arman tenang. “Uang muka.” Dara melirik amplop itu, lalu kembali menatap Arman. “Untuk?” “Untuk sebuah peran,” jawab Arman. “Ka

