Julian 109

850 Words

Pintu rumah tertutup perlahan di belakang Julian. Ia menghela napas panjang begitu langkahnya benar-benar masuk ke dalam rumah. Rapat yang ia jalani sejak siang terasa menguras tenaga, tapi bukan itu yang paling berat. Yang paling menekan justru bayangan wajah Ryujin pagi tadi. Tatapan dingin, suara yang meninggi, dan hentakan kaki itu terus terputar di kepalanya selama ia duduk di ruang rapat, bahkan ketika orang-orang berbicara tentang angka dan target. Julian melepas sepatunya, berdiri sebentar di ruang tengah, matanya menyapu rumah yang terasa terlalu sepi. Tidak ada suara televisi. Tidak ada langkah kaki Ryujin. Tidak ada gumaman kecil Jasmine yang biasanya terdengar ketika Ryujin menggendongnya sambil berjalan mondar-mandir. “Ryujin?” panggilnya pelan. Tidak ada jawaban. Ia berja

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD