Julian 81

2845 Words

Pagi itu datang tanpa suara keras. Tidak ada dentuman senjata. Tidak ada teriakan latihan. Tidak ada langkah tergesa di lorong. Cahaya matahari masuk perlahan melalui celah tirai kamar Ryujin, jatuh lembut di lantai dan menyentuh ujung ranjang. Udara terasa lebih tenang dari hari-hari sebelumnya. Ryujin membuka matanya perlahan. Ia tidak langsung bangun. Ia diam, menunggu. Mendengarkan. Hanya ada suara napasnya sendiri… dan napas Julian yang teratur di sampingnya. Ryujin menoleh sedikit. Julian masih terlelap, satu lengannya melingkar di pinggang Ryujin, seolah takut Ryujin menghilang jika dilepas. Ryujin menelan ludah. Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, dadanya tidak sesak. Ia menggeser tubuhnya perlahan, berhati-hati dengan pahanya. Perban masih terpasang, tapi rasa ny

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD