Lorong menuju ruang bawah tanah sunyi. Lampu-lampu kecil di dinding menyala redup, memantulkan bayangan panjang di lantai beton. Langkah kaki Julian terdengar mantap, satu per satu, tanpa tergesa. Wajahnya datar. Tidak ada amarah yang meledak-ledak. Justru ketenangan itu yang berbahaya. Dua anak buah yang berjaga di depan pintu besi menegakkan badan. “Boss.” Julian mengangguk singkat. “Buka.” Pintu besi terbuka perlahan, suara gesekannya menggema di lorong sempit. Ruang bawah tanah lembap dan dingin. Bau besi dan tanah bercampur, membuat udara terasa berat. Lampu tunggal menggantung di langit-langit, menyinari satu sosok di tengah ruangan. Yulia. Tangannya terikat di belakang kursi. Wajahnya lebam di satu sisi akibat tamparan Jania sebelumnya. Namun sorot matanya masih hidup. Masih

