Waktu berjalan lambat. Terlalu lambat. Jam digital di ruang taktik menunjukkan angka yang terus bertambah, menit demi menit terasa seperti ditarik paksa. Tidak ada tembakan. Tidak ada teriakan. Hanya suara mesin kendaraan di kejauhan dan komunikasi radio yang sesekali berdesis. Julian berdiri di depan layar besar, kedua tangannya bertumpu di meja. Bahunya tenang, tapi rahangnya masih mengeras. Ia tidak bergerak banyak sejak satu jam lalu. “Mereka masih di perimeter luar,” lapor salah satu anak buah. “Tidak ada upaya masuk.” “Mereka menunggu,” jawab Julian singkat. “Menunggu apa?” Julian tidak langsung menjawab. Matanya menatap peta digital, memperhatikan titik-titik merah yang mengelilingi markas seperti cincin. “Kesalahan,” katanya akhirnya. “Atau emosiku.” Orang-orang di ruangan

