Malam itu tidak datang dengan suara. Tidak ada teriakan. Tidak ada kaca pecah. Tidak ada kejar-kejaran dramatis seperti di film. Justru sunyi itulah yang membuat semuanya terasa jauh lebih mengerikan. Ryujin baru saja menidurkan Jasmine. Putrinya tertidur pulas setelah menyusu, wajah mungil itu begitu damai hingga Ryujin sempat menatapnya lama. Ia mengecup kening Jasmine pelan, lalu berdiri perlahan agar tidak membangunkan anaknya. Julian masih di ruang kerja, menyelesaikan beberapa berkas. Ryujin sempat berphikir untuk menghampirinya, tapi rasa lelah membuat langkahnya berbelok ke dapur. Ia ingin mengambil air hangat sebelum tidur. Lampu dapur menyala. Dan di sanalah semuanya berubah. Saat Ryujin berbalik setelah menuang air, sebuah tangan tiba-tiba menutup mulutnya dari belakang. T

