Julian 223

854 Words

Pagi itu datang dengan suasana yang lebih sibuk dari biasanya. Cahaya matahari masuk terang ke dalam kamar, menyinari ranjang tempat Ryujin masih berbaring setengah malas. Selimut menutupi sebagian tubuhnya, sementara satu tangannya otomatis mengusap perutnya yang sudah sangat besar. Ia menghela napas panjang. “Berat sekali…” Gerakan kecil dari dalam membuatnya tersenyum. Namun sebelum ia bisa kembali menikmati momnen tenang itu— pintu kamar terbuka. Julian masuk. Sudah rapi. Sudah siap. Dan itu langsung membuat Ryujin mengerutkan kening. “Kamu mau ke mana pagi-pagi begini?” Julian berjalan mendekat. “Kita keluar.” Ryujin langsung menatapnya. “Ke mana?” Julian berhenti di depan ranjang. “Ke dokter.” Ryujin terdiam. Beberapa detik. “Sekarang?” Julian mengangguk. “Kontro

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD