Pagi itu rumah Julian terasa tenang. Sinar matahari menembus tirai tipis, menyinari ruang tengah dengan cahaya hangat. Julian sedang menyiapkan sarapan sederhana untuk Ryujin dan Jasmine, sementara Ryujin duduk di kursi, menatap putrinya yang sedang mengoceh dengan riang. Tiba-tiba, terdengar ketukan keras di pintu depan. Julian menatap Ryujin sebentar, alisnya terangkat. “Aku yang akan membuka,” katanya, suaranya datar tapi tegas. Dia melangkah ke pintu, membuka dengan hati-hati, dan terkejut melihat Mora berdiri di depan rumah dengan senyum manisnya, berpakaian rapi, rambut pirang tergerai. “Julian…” sapanya lembut tapi penuh keyakinan. Julian mengerutkan alis, rahangnya menegang. “Apa yang kau lakukan di sini?” suaranya dingin. Mora melangkah masuk seolah tidak ada yang salah, menat

