Ryujin berdiri di dekat pintu kaca besar yang menghadap ke halaman belakang markas. Tangannya bertumpu di pinggang, tubuhnya sedikit condong ke depan. Dari balik kaca itu, ia bisa melihat area latihan terbuka yang luas, lantainya keras, berlapis matras tebal di beberapa sisi, sementara di bagian tengah hanya permukaan beton yang dingin dan kokoh. Puluhan lelaki bertubuh besar bergerak di sana. Tidak ada yang berbicara berlebihan. Tidak ada tawa. Hanya suara napas berat, hentakan kaki, dan pukulan yang dilepaskan tanpa ragu. Satu tubuh terhempas ke tanah. Suara benturan terdengar jelas, diikuti oleh bunyi gesekan tulang yang membuat rahang Ryujin mengeras. Lelaki yang jatuh itu meringis, berusaha bangkit, tapi lawannya sudah menarik kerah bajunya dan kembali melayangkan serangan. “Bangu

