Pagi itu cahaya matahari masuk lewat celah tirai, jatuh lembut di lantai kamar hotel. Julian sudah terbangun lebih dulu. Ia berdiri sebentar di dekat jendela, menarik tirai sedikit, lalu menoleh ke arah ranjangb. Ryujin masih terlelap, wajahnya terlihat tenang, rambutnya sedikit berantakan di bantal. Julian mendekat dan duduk di tepi ranjang. Dengan hati-hati, ia menyentuh bahu Ryujin. “Bangun,” katanya pelan. “Aku mau ajak kamu sarapan di restoran hotel.” Ryujin mengerjap pelan, lalu mengeliat kecil. Ia memejamkan mata lagi beberapa detik, seolah menimbang-nimbang, sebelum akhirnya membuka mata dan menatap Julian. “Badanku masih pegal,” katanya jujur, suaranya masih serak karena baru bangun. “Boleh nggak kita sarapan di kamar saja?” Juliabn tersenyum kecil. “Boleh. Aku pesan saja ke ho

