Pagi itu datang dengan cahaya matahari yang tidak terlalu terik, hanya cukup untuk menyelinap masuk lewat celah tirai kamar. Udara di dalam rumah terasa lebih hangat dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Ryujin terbangun bukan karena tangisan panik atau suara napas berat, melainkan karena suara kecil yang berbeda. Bukan rengekan. Bukan juga tangis lemah yang membuat dadanya sesak. Suara itu terdengar seperti gumaman pelan, bercampur napas yang jauh lebih teratur. Tangannya langsung bergerak refleks ke arah sisi ranjang bayi di samping tempat tidurnya. Jasmine terbaring dengan mata setengah terbuka, pipinya tidak lagi memerah berlebihan. Kulit kecil itu tampak lebih segar, dan yang paling membuat Ryujin menahan napas adalah napas anaknya yang kini naik turun dengan ritme yang tenang. Tid

