Julian menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah kafe kecil yang berada di sudut taman. Bangunannya tidak terlalu besar, didominasi kayu dan kaca, dengan tanaman rambat di beberapa sisi dinding. Pintu kacanya terbuka setengah, memperlihatkan suasana di dalam yang hangat dan tenang. Aroma kopi dan roti panggang samar-samar tercium. Julian menoleh ke Ryujin. “Kita sarapan di sini.” Ryujin mendongak, menatap papan nama kafe itu beberapa detik. Matanya menyapu sekeliling, lalu kembali ke pintu kaca. “Ramai?” tanyanya pelan. Julian menggeleng. “Nggak. Lihat sendiri.” Ia mendorong stroller sedikit ke depan agar Ryujin bisa melihat ke dalam. Beberapa meja terisi, tapi tidak penuh. Mayoritas pasangan dan satu dua keluarga kecil. Tidak ada suara bising, hanya obrolan pelan dan musik lembut

