Julian 89

2838 Words

Pagi itu tidak berjalan seperti biasanya. Sejak subuh, Jasmine sudah merengek tanpa henti. Tangisnya tidak keras, tapi terus-menerus, seperti ada sesuatu yang mengganggunya dan tidak bisa ia sampaikan. Ryujin yang sejak bangun sudah merasa ada yang tidak beres, menggendong putrinya sambil berjalan mondar-mandir di kamar. “Kenapa, sayang?” gumam Ryujin pelan, menepuk punggung kecil Jasmine dengan ritme lambat. Biasanya, Jasmine akan tenang setelah disusui atau digendong beberapa menit. Tapi kali ini berbeda. Tangisnya tidak berhenti. Tubuhnya terasa lebih hangat dari biasanya. Ryujin duduk di tepi ranjang, lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Jasmine. Alisnya langsung mengerut. “Panas…” Jantung Ryujin berdegup lebih cepat. Ia segera mengambil termometer dari laci, tangannya sed

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD