Julian baru saja selesai menaruh piring sarapan di meja, ketika terdengar suara tangisan kecil dari lantai bawah. Ia menatap Ryujin yang sedang duduk di sofa, wajahnya sedikit tegang. “Terdengar dari mana tadi?” tanya Julian sambil berdiri, menatap Ryujin. Ryujin buru-buru bangkit. “Dari kamar Jasmine, sepertinya dia bangun dan lapar.” Julian mengangguk, menunduk. “Baik, aku ikut sama kamu.” Mereka berdua bergegas menuruni tangga, langkah Ryujin cepat tapi hati-hati. Sesampainya di kamar Jasmine, ia melihat suaminya tengah mencoba menenangkan bayi mereka. Julian tersenyum lembut, mengayun-ayunkan stroller dan menatap Ryujin. “Lihat, aku sudah coba menenangkannya,” ujar Julian sambil tersenyum manis. Ryujin menunduk, tersenyum tipis. “Kamu selalu bisa bikin dia tenang ya… Tapi sekaran

