Sebastian menatap tak percaya wanita yang baru saja mengucapkan sesuatu yang baginya sangat memuakkan. Beberapa saat terlewat, ruangan yang dihuni oleh dua orang berbeda jenis tersebut hening dan terasa dingin. Kedutan terlihat di sekitar rahang papa Ellio ketika pria tersebut menekan-nekan katupan gerahamnya. Ibu Louisa memberanikan diri untuk tetap membalas tatapan setajam pisau belati yang siap mengoyak dirinya. Dia sadar, permintaannya terlalu berlebihan. Namun, dia sungguh tidak memiliki pilihan lain. Sebastian adalah pria yang padanya dia bisa mempercayakan putri satu-satunya yang sudah hancur. “Dia sudah kehilangan rahimnya. Dia tidak akan bisa memiliki anak lagi. Tidak ada ancaman dari pernikahanmu sekarang, karena putriku tidak mungkin bisa memberimu keturunan. Tidak akan ada pe

