“Ellio sudah bangun?” Sebastian mengusap pelan kepala sang putra yang baru saja membuka kedua matanya. Pria itu tersenyum. ‘Pa-pa.’ Adalah kata yang keluar dari mulut Ellio yang akan terdengar seandainya saja suaranya tidak sedang hilang. Meskipun tidak mendengar suara Ellio, Sebastian bisa membaca gerak bibir anak itu. Sebastian menggerakkan kepala turun naik, sambil kembali menarik kedua sudut bibir yang terasa kaku. Melihat mata Ellio sembab, dan suara anak itu hilang—Sebastian bisa membayangkan separah apa Ellio tantrum. “Kalau Ellio masih mengantuk, Ellio boleh tidur lagi. Atau … Ellio mau sarapan dulu, hmm? Papa sudah pesankan pancake kesukaan Ellio.” Ya, Sebastian sengaja memesan pancake khusus untuk sang putra. Berharap Ellio akan senang dan kembali bersemangat seperti biasanya

