Chapter 8—Pengakuan 2 . . Pengakuan Candani benar-benar mengejutkan untuk semua orang, terutama Dillah. Dia ditarik pergi dari ruang tengah begitu saja, membiarkan Nolan menjadi urusan kakak laki-lakinya. Dillah tak begitu cemas sebab di sana ada suaminya, Athaar pernah melewati situasi yang sama, pasti bisa jadi penengah antara mereka. Namun, Candani merasa cemas. Bagaimana bila mereka menghakimi Nolan menggunakan kekerasan. “Mbak... Abang, Mas dan Aa, nggak akan memukuli Nolan, kan?” tanya Candani yang sudah berada di kamar. Dillah menatap adiknya, tak luput dari atensi Mbak Titi juga. “Kamu takut kalau pacarmu dipukuli?” Candani terdiam, “kita kembali ke depan saja—“ “Kalau pun Nolan dipukuli, dia memang pantas mendapatkannya!” “Tapi—“ “Dulu Aa yang cuman ngobrol sama Mba

