Gwen tidak langsung menjawab. Ia hanya tetap berada di pelukan Maxim, mencoba menarik napas di antara isakan yang masih tersisa. Tangannya perlahan mencengkeram jas Maxim lebih kuat, seolah itu satu-satunya hal yang masih menahannya agar tidak benar-benar jatuh. Lorong rumah sakit kembali sunyi. Lampu putih di langit-langit berdengung pelan. Beberapa saat kemudian, Gwen akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya masih merah, pipinya basah oleh air mata. “Dia pergi …” bisiknya lagi, lebih pelan kali ini. Maxim menatapnya tanpa berkata apa-apa. Lalu Gwen menarik napas panjang, mencoba mengendalikan dirinya. Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan. Tangannya masih gemetar. Namun perlahan, ekspresi di wajahnya mulai berubah. Kesedihan itu masih ada. Namun di baliknya … sesuatu ya

