Keluar dari ruangan Pramana, langkah Arman terasa jauh lebih ringan. Meski tadi ia sempat gugup saat mengakui seluruh kebenaran pada Pramana, setidaknya beban itu kini sudah terangkat. Di sisi lain, Indira tampak masih memikirkan banyak hal, terlihat dari cara bahunya turun dan tarikan napasnya yang panjang ketika pintu ruangan Pramana menutup di belakang mereka. Arman menyentuh punggung tangan istrinya, sebuah sentuhan singkat namun menenangkan. “Gimana? Kamu sudah siap bertemu dengan keluarga saya nanti malam?” Indira tidak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke depan sepanjang mereka berjalan di koridor lantai atas perusahaan. Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar bergema. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya ia menghela napas yang entah keberapa kalinya hari itu. “Sepertin

