Ruang kerja Pramana siang itu terasa sunyi, terlalu sunyi untuk ukuran ruang seorang direktur yang biasanya dipenuhi kesibukan. Pramana duduk di sofa panjang berwarna hitam, tubuhnya sedikit condong ke depan, kedua telapak tangan bertaut di antara lutut. Tatapan matanya tajam, penuh pertanyaan, sekaligus kesal. Di sofa seberang, Arman dan Indira duduk berdampingan. Indira tampak menundukkan wajah, jemarinya menggenggam ujung tas seolah benda itu mampu menyembunyikannya dari seluruh perhatian. Arman, sebaliknya, duduk tegap namun napasnya terlihat berat, seperti sedang mempersiapkan diri menghadapi badai. “Kalian, mau jelasin sesuatu?” suara Pramana akhirnya pecah setelah beberapa detik hening panjang. “Papa tanya sekali lagi. Kok bisa kamu dan Indira datang ke kantor bersama? Dari mana k

