Indira berjalan mondar-mandir di ruang tengah apartemen yang ia tempati bersama Maya. Langkahnya cepat, tak beraturan, seakan ruangan seluas itu tiba-tiba menjadi terlalu sempit untuk menampung kegelisahannya. Suara langkahnya yang berulang-ulang membuat suasana terasa bergetar dalam kecemasan. Maya yang sedang duduk bersandar di sofa sambil memegang tablet akhirnya meletakkan benda itu dan memperhatikan gerak-gerik Indira. Alisnya terangkat, matanya mengerut penuh keheranan. "Ada apa sih, In? Kok kamu dari tadi mondar-mandir kayak setrikaan?" tanyanya. Indira berhenti sejenak. Tapi hanya sejenak, karena setelah itu ia kembali melangkah. Menggigit ujung kukunya—kebiasaan yang dulu ia tinggalkan, tapi kini muncul lagi tanpa bisa dikendalikan. “Aku…” suara Indira bergetar. “Aku gak tau h

