Indira menelan ludah. Ia menoleh ke arah manajernya, mencari pertolongan, tapi pria itu hanya membalas dengan senyum penuh arti. Dari arah lain, Sela yang sedari tadi melihat hanya bisa melongo, tak percaya sahabatnya dipanggil langsung oleh Wakil Direktur Utama yang baru saja kembali dari luar negeri itu. "Indira, ayo!" Arman kembali memanggil, kali ini dibarengi dengan langkah kaki yang menuju lift. “I-iya, Pak,” jawab Indira dengan suara nyaris tak terdengar. Kakinya bergetar saat melangkah mengikuti Arman. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Beberapa karyawan lain yang kebetulan melihat bahkan mulai berbisik-bisik, menebak-nebak akan interaksi keduanya. Indira hanya bisa menunduk dalam, menatap lantai, berharap wajahnya yang memerah tak terlalu mencolok. Lift

