Perempuan paruh baya itu berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya, punggungnya menghadap Adrian yang duduk tegang di sofa. Tangannya terlipat di d**a, rahangnya mengeras menahan emosi. “Kamu pikir aku bodoh, Adrian?” suara Malinda rendah tapi mengancam. “Ayusita datang padaku dengan cerita lengkap. Katanya kamu bermesraan dengan perempuan lain di kantor!" Nada Malinda antara cemburu juga tidak terima sebab Adrian terlalu sembrono. Jika sampai Ayusita marah pada Adrian lalu membocorkan rahasia mereka, maka bisa gawat. Adrian menghela napas panjang, lalu berdiri. Ia berjalan mendekat, menjaga jarak aman. “Itu salah paham, Ma. Karyawan itu memang suka cari perhatian. Aku hanya bersikap profesional.” Malinda berbalik cepat. “Profesional? Berduaan di ruangan tertutup itu profesional?”

