Malam merangkak naik, Indira sudah bersiap untuk pergi tidur. Bahkan dia sudah berbaring di atas ranjang, tubuhnya menghadap ke langit-langit kamar, sementara guling panjang terletak rapi di tengah ranjang sebagai batas tak kasatmata. Ia menolehkan kepala ketika suara pintu kamar mandi terbuka perlahan. Arman keluar dengan wajah segar, berbalut kaus santai dan celana tidur yang membuat kesan formalnya benar-benar menghilang. Pria itu mematikan lampu utama, lalu melangkah mendekat dan ikut merebahkan tubuh di sisi ranjang. “In,” panggil Arman pelan. “Ya?” jawab Indira tanpa menoleh, suaranya lembut tapi terdengar tegang. “Kamu siap kan besok ketemu Bu Malinda dan Adrian?” Pertanyaan itu membuat napas Indira tertahan sesaat. Ia menelan ludah sebelum akhirnya menjawab jujur. “Siap nggak

