Ruang rapat Akbar Group tampak tegang siang itu. Semua karyawan bagian manajemen duduk berjajar dengan wajah menunduk. Tak ada yang berani bersuara keras karena di ujung meja, duduklah Malinda Akbar, wanita paruh baya yang dikenal tajam lidah dan dingin sikap. Di sampingnya, ada Adrian, menantu kebanggaannya yang baru enam bulan menikah dengan Ayusita, putrinya. “Baiklah, rapat selesai,” suara Malinda terdengar mantap. “Adrian, kamu tinggal. Aku ingin membicarakan sesuatu yang lebih... pribadi.” Yang lain langsung berkemas. Dalam hitungan detik, hanya tersisa dua orang di ruang besar itu. Adrian memandang wanita itu dengan sorot mata yang sulit diartikan. Satu sisi kagum, sisi lain penuh perhitungan. Ia tahu, di hadapannya bukan sekadar mertua. Malinda adalah gerbang menuju kekuasaan te

