22. Arman Bukanlah Manager Proyek

1359 Words

Indira baru saja selesai menata beberapa kotak katering yang hendak diantar ke proyek. Ia sengaja ingin bertemu Usman, jadi mau tak mau, Indira harus turun tangan sendiri. Namun beberapa jarak mendekati lokasi proyek, motor yang dikendarainya dicegat seseorang. Helm hitam itu dilepas, dan tampaklah wajah yang selama ini berusaha ia hindari, Dimas. “Indira,” panggilnya dengan suara tajam, sorot matanya penuh amarah. Indira terdiam di tempat. Tangannya bergetar memegang setang motor. “Ngapain kamu di sini, Dimas?” Dimas menyeringai miring. “Katanya sudah menikah. Kok masih mau-mau saja antar katering sendirian?" Nada suaranya menghina. Indira menelan ludah, berusaha menahan emosi. “Kalau cuma mau cari ribut, lebih baik kamu pergi. Minggir.” “Ribut?” Dimas terkekeh. “Kamu pikir aku mau

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD