“Kalau nyulik, dari tadi Akang sudah Nda ikat,” balasnya enteng. Staf tadi mendekat, menyapa dengan senyum bersahabat, lalu mempersilakan kami menempati meja dekat dinding batu yang ditumbuhi pakis mini. “Memang masih sepi, Mas?” tanyanya ke staf kafe. “Iya, Kak Amanda. Kan belum jam makan siang.” “Ada bagusnya sih saya datang jam segini.” Aku mengernyit. Staf itu tergelak, seolah mengerti maksud ucapan Amanda. “Hari Jumat juga, Kak. Biasanya baru ramai setelah salat.” “Bener,” tanggap Amanda. “Soalnya dokter gigi yang nemenin saya ini justru mulai praktik jam dua. Terlalu mepet kalau makannya habis salat.” “Keburu Kak Amanda lapar nungguin juga.” “Iya. Perut aku kan nagaan, bukan cacingan.” Aku yang tergelak. Amanda mencondongkan tubuh. “Akang jadi mau pesan surprise me menu?”

