Nino mengusap wajah. “Ya Allah…” Aku terkekeh. Pahit. “Ini bukan soal maafin, No.” “Terus?” balas Nino. Aku mengangkat bahu. “Urang capek,” jawabku, sengau. Hening menyela lagi. Lalu... Mehdi mengangguk. “Kau capek perang sama perasaan dan pikiran sendiri.” Aku mengangguk. “Capek marah. Capek nyalahin. Capek asal ingat atau lihat dia terus keinget Yupi.” Nino mendengus. “Kenapa jadi sedih begini sih.” Mehdi tersenyum. “Karena ternyata punya hati juga kau.” “Diam!” sentak Nino. Aku ikut tertawa. Nino menunjuk layar. “Tapi serius, Yal!” Aku menaikkan alis. “Kalau ujung-ujungnya maneh baikan, akrab lagi sama eta jurig…” Aku mengatupkan bibir rapat-rapat. “Aing tenggelemin siah berdua!” Tawa Mehdi pecah lagi. Terbahak. Aku ikut ngakak. “Urang marah-marah bela-bela maneh di si

