“Laper banget nih gue,” ujar Cantika saat akhirnya kelas pilates kami selesai. Ujung-ujungnya, hanya kami berdua yang masuk studio ini. Risa, Fira, dan Alya malah kompak mencari berbagai alasan agar cuti olahraga selama libur. “Makan ayam asap mau nggak lo, Kak?” “Ayo!” sahutku. Aku menatap jam di pergelangan tanganku, sepuluh menit menjelang tengah hari. Akhirnya! Entah kenapa, rasanya hari ini waktu bergulir begitu lambat. Sejak pagi tadi, setelah semua orang keluar dari rumah Kang Iyal dengan wajah serius dan pikiran penuh strategi, kepalaku justru sibuk memutar ulang satu hal yang sama. Wajahnya. Mata sembab itu. Tatapan kosong yang beberapa kali tertangkap diam-diam saat semua orang bicara. Kang Iyal memang ikut bicara, ikut menanggapi, ikut mengangguk. Tapi aku tahu… sebagi

