BAB 78

1273 Words

Tok! Tok! Tok! “Iyal?” Aku menoleh. “Masuk, Ma,” sahutku. Satu minggu sejak persidangan pertama digelar sudah berlalu. Dan bagiku... rasanya cepat sekaligus lambat. Cepat karena rutinitas harianku yang selalu penuh. Praktik, pulang, menghubungi Amanda dan bertemu sesekali, serta—dua hari terakhir—malamku habis di kantor Dewantara LawFirm. Dan rasanya lambat berhubung semakin dekat ke sidang kedua, semakin gelisah perasaanku. “Kamu nggak turun-turun,” ujar Mama seraya meletakkan nampan di meja. “Kenapa sarapannya dibawa ke sini, Ma?” balasku. “Mama mau siap-siap.” “Mama ikut?” Beliau mengangguk. Sidang yang kumaksud... hari ini. Aku masih berdiri di depan cermin, merapikan kerah kemeja putihku. Jas hitam masih tergantung di samping cermin. Jam tangan sudah melingkar di pergelang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD