BAB 89

2118 Words

“Woy!” Aku menoleh ke kiri-kanan, mendapati dua tangan menepuk bahuku hampir bersamaan. dr. Kane dan dr. Deni. Duduk mengapitku di bangku panjang warteg langgananku ini. “Kok makan di sini, Dok?” tanyaku ke dr. Deni. Beliau berdiri, melangkah keluar, celingak-celinguk seolah mencari sesuatu di fasad Warung Tegal ini. dr. Kane malah terkekeh, lalu memesan lebih dulu. “Bu, saya makan pakai tumis pepaya muda dan teri kacang.” “Tempe tahu, Dok?” “Yang ditepungin tapi masih panas ada nggak?” “Ada, Dok.” “Oke, mau. Satu-satu aja.” Bu Nur si pemilik usaha ini mengangguk. dr. Deni kembali. “Nggak ada tulisan ‘Deni Atharya Auriga dilarang masuk’,” ujarnya santai, lalu duduk lagi. Aku tergelak. “Bu, saya pake sayur tahu dan tongkol suwir,” ujar dr. Deni ke Bu Nur. “Urap ada nggak?” “A

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD