Suasana tenang, pelayan lalu lalang dengan langkah ringan, dan aroma roti panggang memenuhi udara. Namun ketenangan itu pecah ketika Leon berlari kecil ke arah Arielle yang sedang duduk membaca buku di sofa. Bocah itu tampak gelisah, wajahnya menegang seakan menyimpan sesuatu yang mendesak. “Mama Arielle!” seru Leon dengan nada panik. “Aku sudah keliling mansion sejak tadi. Aku cari-cari Matteo, tapi tidak ada! Apa Mama tahu dia di mana?” Arielle mengangkat kepalanya perlahan. Matanya langsung menangkap tatapan penuh cemas di wajah Leon. Hatinya tercekat. Ia tahu betul, pertanyaan itu bukan sekadar tentang Matteo, melainkan juga tentang Reina. Sejak Reina pulang beberapa waktu lalu, Leon memang terlihat semakin sering bersama wanita itu, saling ejek seolah musuh bebuyutan, namun justru d

