Malam itu akhirnya sampai juga pada momen yang sejak tadi membuat jantung Arsya berdetak lebih cepat. Dessert sudah hampir habis. Sendok kecil di tangan Dede masih memegang potongan terakhir dari cake yang mereka pesan. Ia masih menikmati suasana makan malam tanpa menyadari bahwa beberapa detik lagi sesuatu yang besar akan terjadi. Arsya menarik napas pelan. Lalu ia berdiri. Dede yang sedang duduk santai langsung mendongak melihat ke arahnya. Tatapannya penuh kebingungan. Arsya tidak mengatakan apa - apa kenapa dia berdiri. Tidak ada kalimat seperti, "Aku ke toilet sebentar," atau alasan lain yang biasanya orang ucapkan ketika tiba - tiba berdiri dari duduknya saat mereka sedang makan. Ia hanya berdiri. Di pikiran Dede langsung muncul berbagai pertanyaan. "Arsya mau ke mana?" "Ar

