Keesokan paginya, jam di dinding menunjukkan pukul sembilan tepat ketika Arman akhirnya mengambil ponselnya dari meja samping tempat tidur. Sejak semalam ia sudah memikirkan satu hal. Ia harus menelepon Arsya. Bukan hanya untuk mengucapkan selamat atas lamaran yang diterima Dede, tetapi juga karena ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Sesuatu yang menurutnya perlu dikatakan lebih cepat sebelum cerita itu sampai ke orang lain dengan cara yang berbeda. Arman sempat menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum menekan nama Arsya di daftar kontak. Nada sambung terdengar dan beberapa detik kemudian panggilan itu diangkat. "Halo, Bang," suara Arsya terdengar dari seberang. Arman langsung membuka pembicaraan dengan nada yang hangat. "Selamat ya, Sya. Semoga lancar sampai hari H." Di ujun

