Arsya Hari Ini

3259 Words
Pagi itu wajah Arsya benar-benar berbeda. Tidak ada senyum santai. Tidak ada langkah ringan. Tidak ada ekspresi sok tenang seperti biasanya ketika turun dari mobil di depan gerbang sekolah. Wajahnya kusut, matanya sedikit sayu, dan bahunya turun seolah membawa beban yang terlalu berat untuk anak seusianya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arsya diantar sopir. Tidak bawa mobil sendiri atau menumpang kakaknya, sudah seperti anak SD! Dan itu saja sudah cukup membuat suasana hatinya tambah buruk. Abangnya bahkan tadi benar-benar tidak mau menunggunya, oke lah dia bilang pulang tidak bisa, tapi setidaknya pagi ini kan bisa, dia cuma sendiri di mobilnya, tapi Arman berangkat lebih dulu, hanya selisih lima menit meninggalkannya di meja makan! Arsya lupa kalau Abangnya memang begitu. Teng-go, hidup lurus dan tidak akan menunggu orang yang menurutnya sudah cukup besar untuk bertanggung jawab sendiri. Jadi ia benar - benar diantar oleh sopir. Papa dan mamanya yang melihat itu tidak komentar sama sekali, Arsya benar-benar kapok! Ketika mobil berhenti di depan gerbang sekolah, Arsya turun tanpa semangat. Tasnya disampirkan seadanya. Ia mengangguk singkat ke sopir sebelum berjalan masuk. Dan tepat di langkah ketiga, suara itu terdengar. "Sya ... Kamu kok diantar?" Arsya menoleh. Sandra berdiri di sana dengan rambut tergerai rapi, tas selempang kecil di bahunya. Seperti biasa, kehadirannya langsung mencolok. Ia tersenyum, tapi senyum itu cepat berubah menjadi heran. "Iya, mobilku ada masalah," jawab Arsya cepat. Bohong kecil. Tapi ia terlalu lelah untuk memikirkan versi yang lebih rumit. Sandra mengernyit. "Terus gimana kita pergi nanti?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Bukan "kamu nggak apa-apa, kan?" atau "It's oke", tapi langsung tentang rencana mereka. Arsya berjalan pelan, Sandra mengikutinya di samping. Mereka melangkah menuju gedung sekolah, melewati beberapa siswa yang menyapa sambil lalu. Arsya menarik napas panjang. "San ... kayaknya nggak jadi rencana kita itu," katanya akhirnya. "Satu minggu ini aku nggak bisa pergi-pergi." Sandra berhenti berjalan. "Kenapa?" tanyanya cepat. Nada suaranya berubah, jelas ia kaget. "Eyangku datang dari Jakarta," jawab Arsya. "Mungkin sekitar satu minggu atau lebih. Jadi Papa sama Mama bilang kami nggak boleh bikin acara lain, maaf lah, ya." Kalimat itu keluar rapi. Terlalu rapi walau setengah berbohong dan setengahnya lagi berlindung dibalik rencana kedatangan eyangnya. Ia tidak menyebut dalam masa hukuman. Ia tidak menyebut tugas fisika yang lalai ia kerjakan. Arsya tahu, alasan keluarga terdengar lebih bisa diterima. Mereka berhenti sebentar. Sandra menatapnya lekat-lekat. "Okelah kamu nggak nemenin aku beli kado," katanya setelah beberapa detik. "Tapi masa acara malam minggu kamu juga sama eyang? Paling cuma tiga jam pestanya Karina." Nada suaranya terdengar menahan, tidak marah, tapi jelas tidak senang. "Sorry, San," kata Arsya pelan. "Nggak bisa kali, aku. Kek mana kalo kita ganti hari aja, Jumat depan kita jalan, ya." Sandra terdiam. Tatapan matanya berubah. Ada kilat kecewa yang tidak bisa ia sembunyikan. Matanya mulai berkaca-kaca, bukan sampai menangis, tapi cukup untuk membuat Arsya merasa bersalah. "Kamu kok nggak bisa fleksibel gitu, sih?" katanya lirih. "Ini kan cuma sebentar." Arsya ingin menjelaskan lebih panjang. Ingin bilang kalau ini bukan soal mau atau tidak mau. Tapi ia tahu, sejelas apa pun penjelasannya, hasilnya akan sama. Ia tidak bisa pergi. Dan Sandra tidak suka mendengar kata tidak bisa. Tanpa menunggu jawaban lagi, Sandra melangkah lebih cepat, meninggalkan Arsya di belakang. Langkahnya tegas. Bahunya tegak. Ia tidak menoleh lagi. Arsya berdiri sebentar di tempatnya. Menghela napas panjang. Rasanya ingin mengejar. Ingin memanggil. Tapi apa gunanya? Mau dirayu seperti apa pun, keputusannya tidak berubah. Hukuman dari mamanya bukan main-main. Ia masih ingat betul masa SMP dulu. Waktu itu juga seminggu penuh. Tidak boleh pergi ke mana-mana. Sekolah–rumah. Rumah–sekolah. Tidak ada nongkrong. Tidak ada main dan tidak menerima alasan apapun. Satu-satunya yang boleh datang ke rumahnya waktu itu adalah Dede, karena dia seperti punya kartu pass untu mondar mandir di rumahnya. Bisa saja dia bilang mau ketemu bang Arman, tapi Dede datang untuk menemani dan menghiburnya. Dede yang pulang sekolah langsung ikut ke rumahnya. Dede yang duduk di ruang tengah sambil belajar. Dede yang menemani tanpa banyak bicara, tidak mengeluh atau bosan menemaninya. Ia boleh ditemani, tapi tidak boleh pergi keluar rumah. Arsya tersenyum pahit mengingat itu. Sekarang? Mustahil ia minta ditemani Sandra. Jangankan ditemani, mamanya tahu saja kalau ia pacaran dengan Sandra dan sampai lalai mengerjakan tugas, bisa benar-benar habis ia nanti. Arsya melanjutkan langkahnya menuju kelas. Kepalanya penuh, dadanya terasa berat. Di dalam kelas, suasana berjalan seperti biasa. Dede sudah duduk di bangkunya bersama Tanti. Ia sedang membuka buku, ekspresinya tenang, terlalu tenang. Seolah dunia di sekitarnya tidak banyak berpengaruh. Arsya melirik ke arah bangku itu sekilas, lalu duduk di tempatnya sendiri. Opung menyenggol sikunya. "Kau kenapa mukamu kayak orang kalah taruhan?" "Biasa aja," jawab Arsya singkat. "Biasanya nggak kayak gini mukamu," komentar Opung. Arsya tidak menjawab. Sepanjang pelajaran, ia sulit fokus. Kata-kata guru masuk keluar begitu saja. Pikirannya melompat-lompat antara wajah Sandra yang kecewa dan bayangan rumahnya sendiri yang akan menjadi penjara kecil selama satu minggu ke depan. Saat bel istirahat berbunyi, Arsya tidak langsung keluar kelas. Ia duduk, menatap buku tanpa benar-benar membaca. Sandra tidak terlihat datang menjemput, ia pasti masih merajuk, dan gengnya sudah menunggu di depan kelas untuk mengajaknya ke kantin. Dede berdiri bersama Tanti, hendak keluar kelas. Tiba-tiba, tanpa direncanakan, pandangan Arsya dan Dede bertemu. Hanya sepersekian detik. Dede mengangguk kecil, bukan sapaan dan bukan juga senyuman. Hanya bentuk pengakuan singkat bahwa mereka tidak sengaja saling melihat. Arsya membalas anggukan itu tanpa sadar. Ada rasa aneh di dadanya, bukan rindu karena tiap hari juga mereka bertemu dan bukan penyesalan karena Arsya erasa tidak punya salah apa-apa sama Dede. Tapi sesuatu yang lebih mirip dengan kelegaan kecil, sialnya dia tidak tahu lega karena apa. Di kantin, Sandra duduk bersama teman-temannya. Ia tertawa, tapi tawanya tidak secerah biasanya. Sesekali matanya melirik ke arah pintu masuk kantin, lalu kembali berpaling. Di sisi lain, Arsya duduk di bangku dekat lapangan bersama geng dan juga teman-teman basketnya. Ia membuka ponselnya. Ada satu pesan dari Sandra. Sandra Aku butuh waktu. Arsya membaca pesan itu lama. Jarinya menggantung di atas layar. Ia ingin membalas. Ingin menjelaskan lagi. Tapi akhirnya ia hanya mengetik singkat. Arsya Iya Ia menyimpan ponselnya kembali. Hari itu terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Dan ini kali pertama sejak menjalin hubungan dengan Sandra satu minggu ini, Arsya merasakan sesuatu yang tidak ia sangka, berada di antara dua dunia yang sama-sama menuntut, sementara ia tidak benar-benar bebas memilih salah satunya. Di satu sisi, pacarnya yang ingin diprioritaskan. Di sisi lain, Mama yang menuntut tanggung jawabnya. Dan entah kenapa, di sela-sela itu, bayangan satu orang lama yang selalu ada tanpa menuntut apa-apa kembali muncul pelan-pelan di kepalanya. Dede. Arsya menghela napas. Satu minggu ke depan akan terasa sangat panjang. Dan ia baru saja menyadari, hukuman ini bukan hanya soal tidak boleh pergi. Tapi soal menghadapi diri sendiri, tanpa pelarian dan harus bertanggung jawab. -- Siang ini Arsya pulang lagi-lagi dijemput sopir mamanya, tentu saja ia sendirian. Ia tidak melihat keberadaan Sandra. Sebenarnya ia tidak mencarinya juga, kan Sandra bilang butuh waktu. Di saat yang hampir bersamaan, mobil Arman keluar dari area parkir sekolah. Di dalamnya, Arman menyetir dengan satu tangan, Dede duduk di kursi depan, dan Tanti di kursi belakang. Mereka belum banyak bicara sejak keluar gerbang, hanya menikmati angin siang yang panas yang masuk dari jendela yang terbuka karena tadi niatnya mengeluarkan panas yang terperangkap dari dalam setelah mobil berjemur setengah hari Di lampu merah pertama setelah gerbang sekolah, dua mobil itu sejajar. Dede melihat ke samping tanpa sengaja. Matanya langsung menangkap sosok Arsya di kursi belakang sopir. Wajahnya menghadap ke jendela, tatapannya kosong. Tidak main ponsel. Tidak menoleh. Tidak seperti biasanya. Arman juga melihatnya dari balik kemudi. T Dede sedikit mencondongkan badan ke depan dan menoleh ke Arman. "Satu minggu mulai hari ini?" tanyanya pelan, nadanya datar, seperti menanyakan jam atau cuaca. Tapi di balik itu, ada makna yang hanya mereka berdua mengerti. "Yup," jawab Arman singkat tanpa menoleh. Dede menghela napas panjang tapi pelan. Seolah baru saja menerima kabar yang sebenarnya sudah ia duga. Di kursi belakang, Tanti mencondongkan tubuhnya cepat. "Ada apa? Apa yang seminggu?" Arman tersenyum kecil. Ia tahu Tanti tidak mengerti kode kecil barusan. Ia juga tahu, lebih baik Tanti tidak perlu tahu sekarang. "Eyang kami datang hari Minggu," jawab Arman santai. "Biasanya satu minggu atau lebih di sini." "Oh," kata Tanti. "Eyang kelen yang di Jakarta itu?" "Iya. Eyang Nino sama Yangti Sarah." Dede yang duduk di sebelah Arma malah terkejut. "Datang hari Minggu, bang?" Arman mengangguk. "Iya." Dede tersenyum kecil. Tanpa sadar ada rasa hangat yang muncul begitu saja. "Berarti rame nanti rumah kelen," katanya. "Pastilah," jawab Arman. "Dan satu hal yang pasti." "Apa?" tanya Tanti yang penasaran. "Dede harus siap - siap," lanjut Arman sambil melirik ke Dede. "Pasti nanti dia ditanya sama Eyang, mana si Dede kok nggak kelihatan?" Dede tertawa kecil. Ia memang cukup dekat dengan Eyang Nino dan Yangti Sarah. Sejak kecil, sejak ia sering ikut keluarga Arsya dan Arman ke mana-mana. Eyang mereka sudah hafal betul wajah Dede. Sudah tahu kebiasaannya. Sudah tahu kalau setiap kumpul keluarga besar, biasanya ada satu anak yang bukan darah, tapi selalu ada. Apalagi ia perempuan satu-satunya. Sempat tercetus, "Dede ini kayak Adek, kalian bertiga jadi kayak anak kembar tiganya mas Azki," kata Eyang Nino, padahal Dede belum pernah bertemu Adek, dia hanya pernah bertemu Om Azki dan tante Dea dan Mas Dharren dan Mas Dhannis. Kadang walau tidak ada acara khusus, Dede juga diajak jalan - jalan juga, ikut makan dan duduk di antara mereka seolah bagian dari keluarga. Tanti memperhatikan senyum Dede yang tiba-tiba muncul. "Kau dekat juga sama eyang mereka rupanya." "Iya," jawab Dede ringan. "Dari kecil kan aku main sama orang ini." "Kalo itu aku tahu, kau kan sudah cerita. Tapi aku baru tahu soal eyangnya Arman." Mobil kembali melaju. Lampu merah berganti hijau. Di sisi lain, mobil Arsya sudah lebih dulu jalan, meninggalkan mereka. Dede menatap ke depan, ke arah jalan yang kini kosong. Senyumnya perlahan memudar, berganti dengan ekspresi yang lebih tenang. Di mobil sopir, Arsya masih diam. Ponselnya tergeletak di samping, layar mati. Ia tahu, di mobil sebelah tadi, Arman melihatnya. Mungkin Dede juga. Ia bisa merasakannya tanpa perlu menoleh. Ia menghela napas pelan. Hari ini benar-benar panjang. Sesampainya di rumah, Arsya turun tanpa banyak bicara. Sopir membukakan pintu, ia mengangguk singkat sebagai ucapan terima kasih, lalu masuk ke dalam rumah. Rumah terasa sepi lagi. Seperti kemarin. Seperti akan terus begitu selama satu minggu ke depan. Ia naik ke kamar, melempar tas ke kursi, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya meraih ponsel. Tidak ada pesan baru dari Sandra. Ia tidak kaget dan juga tidak kecewa berlebihan. Hanya ada ruang kosong yang pelan-pelan melebar. Di sisi lain kota, mobil Arman berhenti di depan rumah Dede. "Singgah sebentar lah," kata Arman. "Minum air dingin dulu. Aku haus." Dede mengangguk. "Masuklah." Mereka bertiga turun. Di ruang tengah rumah, suasana siang menjelang sore terasa tenang. Dede ke ruang makan untuk mengambil air minum dari kulkas. Tanti duduk di sofa panjang, sementara Arman duduk di sofa single. "Si Arsya kenapa tadi pake sopir, kok nggak bawa mobil dia?" tanya Tanti tiba - tiba ketika Dede kembali membawa tiga gelas. "Kurang tahu, aku. Kau tanyalah sama abangnya," jawab Dede pura - pura bingung. Arman terlihat tergelak kecil. "Apa yang mau ditanyakan, lagi malas bawa mobil kali dia," jawab Arman tapi tidak menjawab pertanyaan Tanti. "Masa Abangnya nggak tahu?" Arman tertawa lagi tapi tetap saja dia tidak menjawab, Tanti pun tidak memaksa. Mereka duduk menghabiskan minum sambil ngobrol biasa. Dan seperti yang Arman bilang tadi kalau ia hanya mampir sebentar, sebelum pulang ia menawarkan Tanti mau ikut pulang atau tidak, dan Tanti bilang nanti saja, karena besok libur ia bisa santai... Pulang sore pun tidak apa - apa. "Aku pulang dulu ya," kata Arman akhirnya sambil berdiri. "Sudah sore." "Iya, Bang, makasih ya udah antar kami pulang " jawab Dede. "Iya sama - sama." Sebelum masuk mobil, Arman menoleh ke Dede. "Kalau eyang nanya, aku bilang apa?" Dede tertawa kecil. "Bilang aja aku kangen. Nanti aku mampir lah ke sana, kabarin aja kalau eyang lagi santai." "Oke." Arman tersenyum, lalu masuk ke mobil dan pergi. Setelah Arman pergi, Dede dan Tanti masuk ke rumah. Mereka Langsung naik ke kamar Dede, baru saja Dede meletakkan tas, dan duduk di tapi ranjangnya. Ponselnya bergetar, satu pesan masuk. Dari Arsya. Arsya Kamu sudah pulang? Dede menatap layar itu beberapa detik. Ia tidak langsung membalas. Bukan karena tidak mau. Tapi karena ia ingin memastikan satu hal, apakah ia membalas karena kebiasaan, atau karena ia memang ingin. Beberapa detik kemudian, ia mengetik. Dede Sudah. Pesan dibalas cepat. Arsya Hari ini capek kali rasanya. Dede tersenyum kecil. Ia bisa membayangkan wajah Arsya saat menulis itu. Dede Istirahatlah kalo gitu Beberapa detik hening. Arsya Lusa Eyang datang Dede membaca kalimat itu pelan. Arsya ingat untuk memberitahukannya soal Eyang, ia pikir Arsya akan melewatkan informasi ini. Tapi Dede tidak mau bilang kalau ia sudah tahu dari Arman. Dede Oh gitu, senang lah ya eyang kelen datang, pasti ramai kali di rumah nanti. Melihat perubahan wajah Dede menjadi senyum - senyum ditahan membuat Tanti penasaran. "Wa-an sama siapa kau, De?" tanya Tanti dari tempat duduknya. "Arsya." "Oh mau apa orang yang bukan siapa - siapa itu?" tanyanya sinis. "Ganas kali kau ... Dia cuma kasih tahu aku kalau Eyangnya mau datang," jawab Dede. "Ah nggak percaya aku." "Kok kau nggak percaya, betulan ini ..." Dede mengangkat ponselnya mensejajarkan layar dengan wajahnya "Ini ha, ditulisnya, 'lusa Eyang datang'," ucap Dede membacakan chat Arsya. "Kalau cuma itu yang ditulisnya, kenapa kau senyum - senyum, di mana lucunya?" "Mana ada aku senyum - senyum." "Mataku ini belum buta, minus pun enggak. Tapi ku lihat kau tadi senyum - senyum, makanya ku tanya ... ngapain juga aku ngarang-ngarang cerita ..." jawab Tanti setengah kesal. "Masa sih aku senyum - senyum? Salah setelan mukaku ini kalo gitu." Tanti mendengus. "Bisa- bisanya kau salahkan muka kau sendiri, segala mukamu yang salah setel lah yang kau bilang. Padahal tinggal bilang aja kau senang di WA sama dia, selesai perkara." "Issh ... Aku kan nggak wa-an sama musuhku, masa aku harus cemberut?" "Nah kan ...sudah kena lagi kau, kan? Padahal cuma di wa-nya mau kasih tahu eyangnya datang, walaupun kau sudah tahu dari Arman tadi ... " "Enggak ... biasa aja kok aku," bantah Dede. "Mana cok kulihat jawabanmu, pasti kau bilang kau nggak tahu kan kalau Eyangnya datang? Biar senang hatinya seolah dia jadi orang pertama yang kasih tahu kau soal kedatangan eyangnya." Dede diam ... ia tidak memperlihatkan chat dengan Arsya dan juga tidak membantah. Dia malah berdiri dan pura-pura cari sesuatu di dalam tasnya. Tanti tersenyum sarkas. Dasar bucin nggak jelas! ---- Mall sore itu ramai seperti biasa. Di salah satu gerai makanan cepat saji yang menghadap ke atrium besar, Sandra duduk bersama Yeni dan Lia. Di atas meja, nampan berisi ayam goreng, kentang, dan minuman bersoda tampak mulai berantakan. Sandra memegang sepotong ayam, tapi sejak tadi makannya lebih banyak berhenti di tengah jalan. "Aku curiga ada sesuatu sama Arsya," ucapnya sambil menatap ayam goreng di tangannya, lalu menggigitnya pelan. Yeni mendongak. "Kau curiga apa sama dia?" Sandra mendesah. "Kalian tahu nggak sih kedekatan dia sama Dede? Walaupun aku nggak tahu ada apa sekarang. Tapi feelingku bilang ada sesuatu. Dia ngomongnya eyangnya mau datang. Apa hubungannya sama janji kami hari ini sama besok? Emangnya dua puluh empat jam dia sama eyangnya? Emangnya anak daerah begitu ya, kalau eyangnya datang dari Jakarta, harus ditemani terus?" Nada suara Sandra naik turun, antara kesal dan bingung. Ia jelas tidak puas dengan penjelasan Arsya pagi tadi. Yeni mengunyah kentangnya sambil berpikir, lalu menjawab santai, "Nggak tahu aku. Opung kami serumah, jadi nggak ada istimewanya." Ia menoleh ke Lia seolah minta pembenaran. "Kan?" Sandra langsung menimpali. "Baru satu minggu jadian dia sudah begini. Kalian pernah dengar nggak sih track record Arsya pacaran?" Yeni mengangkat bahu. " Setahuku dia gonta ganti pacar, cuma yang terakhir sama Esti. Tapi si Esti itu cemburu kali sama si Dede. Padahal kan Dede cuma sahabat Arsya." Sandra mengangguk pelan. "Aku juga nggak suka Dede dekat-dekat kami. Tapi aku sudah tegaskan dari awal sama Arsya. Dan dia bilang iya." "Bagus kau gitu," kata Yeni. "Kalau Esti mungkin dulu nggak sempat bilang begitu. Asyik kali si Arsya sama si Dede aja. Marah lah dia. Putus orang itu." "Esti itu anak mana?" tanya Sandra. "Sekolah lain. Dia teman Lia waktu SMP. Tapi banyak temannya di sekolah kita." "Oh." Sejak tadi Lia hanya menyimak sambil sibuk nyomot saus tomat dengan kentang di depannya. Ia tidak terlalu akrab dengan Sandra. Kalau bukan karena sepupunya, Yeni, ia mungkin sudah pulang lebih dulu. Tapi karena Sandra mau cari kado untuk Karina yang ulang tahun besok, Yeni mengajaknya dan akhirnya Lia memilih menemani karena dijanjikan mau ditraktir. "Kenapa nggak kau datangi aja rumahnya?" kata Yeni tiba-tiba tanpa menoleh. "Bilang sama mamaknya kalau kau mau ngajak Arsya pesta. Biasanya orang tua nggak enakan. Pasti dikasih." Mata Sandra langsung berbinar. "Bagus juga itu kamu itu." "Tapi masalahnya," lanjut Sandra cepat, "Aku nggak tahu rumah Arsya di mana." Yeni tertawa kecil. "Se-Medan ini juga sudah tahu, rumahnya kan di depan Rumah Sakit Royal itu. Kau tanya aja sama satpam rumah sakit." "Persis di depannya?" tanya Sandra memastikan. "Iya. Di depan rumah sakit itu ada rumah besar kali. Nah, itulah rumahnya. Kek mana kau sudah pacaran satu minggu tapi kok nggak tahu rumahnya?" Sandra terdiam sebentar. "Belum pernah diajak ke rumahnya." Yeni mendecak pelan. "Kenapa harus nunggu diajak? Kau datang aja. Eh tapi aku ingat, Arsya itu latihan basket kan hari Sabtu di klubnya?" "Iya, memang dia latihan basket Sabtu pagi," jawab Sandra. "Kau datang aja ke situ kalau nggak," lanjut Yeni. "Bujuk lagi dia. Mana tahu dia berubah pikiran. Mau dia tinggalkan eyangnya sebentar." Sandra mengangguk pelan sambil melamun. Jelas sekali saran itu baru terpikir olehnya sekarang. Wajahnya terlihat serius, seperti sedang menyusun rencana di kepala. "Iya," katanya akhirnya. "Nanti coba aku pikirkan. Tapi kayaknya mendingan aku datang ke tempat latihannya aja. Biar dia bisa siap-siap malamnya. Takutnya kalau aku langsung ke rumahnya besok malam, dia kaget dan enggak siap malah enggak mau pergi, kan?" "Kau atur aja lah," kata Yeni santai. Sandra mengangguk lagi. Keputusannya seperti sudah setengah bulat. Tak lama kemudian, mereka membereskan meja. Yeni dan Lia pamit lebih dulu di depan mall. Sandra masih berdiri sebentar menunggu taksi, iya menatap keramaian atrium, pikirannya penuh dengan rencana-rencana kecil. Setelah mereka bubar, baru Lia bersuara ketika ia dan Yeni berjalan menuju parkiran, tempat motor mereka parkir. "Semangat kali kau kasih ide ke si Sandra itu," kata Lia sambil tersenyum miring. Yeni terkekeh. "Kalau nggak dikasih ide, nggak jalan pikirannya. Kau tahu otaknya cuma sesendok." Mereka tertawa kecil, langkah kaki mereka mantap menuju tempat parkir. Malam harinya, cerita itu sampai ke telinga Tanti melalui Lia. Mereka bertelepon cukup lama, suara Lia terdengar bersemangat menceritakan semuanya. "Tapi memang betul itu, Li," kata Tanti dari seberang telepon. "Memang eyangnya mau datang. Aku tahu kali soalnya si Arman juga bilang begitu. Tapi katanya baru hari Minggu eyangnya itu datang, bukan hari ini atau besok." "Bah, terus kenapa Arsya sudah membatalkan janjinya sama Sandra hari ini?" tanya Lia. "Sampai repot si Yeni mengawaninya. Aku pun ikut." "Nah itu yang aku nggak tahu," jawab Tanti jujur. "Arsya itu hari ini memang aneh. Pulang sama sopir. Kek ada yang disembunyikannya." Di kamarnya, setelah selesai teleponan dengan Lia, Tanti merebahkan tubuhnya di kasur. Ia memikirkan wajah Dede yang sore tadi tertangkap basah sedang senyum-senyum sendiri membalas wa Arsya. Kalau sampai terjadi sesuatu antara Arsya dan Sandra... Mungkin saja peristiwa Esti akan terulang lagi ke Sandra. Dia benar-benar tidak punya ide ada apa dengan Arsya hari ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD