"Ya … nggak, Dek," jawab Arsya paling cepat, hampir tanpa jeda. Dede dan Tanti refleks saling pandang. Reaksi itu terlalu spontan untuk dilewatkan begitu saja. "Iya apa nggak? Yang bener dong, jangaan bikin Adek bingung." "Maksudnya nggak." "Padahal iya juga nggak apa - apa, Mas," lanjut Dhevi sambil menyunggingkan senyum usil. "Cocok kok. Mas Arsya sama Dede, Tanti sama Bang Arman." "Kok gitu sih lo nebaknya?" sahut Anya, setengah menahan tawa. "Ya mereka jalan - jalan berempat. Kalau dipasang - pasangin gini kan kelihatannya ada 'something'. Terus duduknya juga pas depan - depanan," jawab Dhevi santai, seolah temuannya itu mutlak benar. "Udah klop." Anya memutar bola matanya malas. Dhevi memang begitu, kalau sudah berbicara, yang ada di kepalanya langsung keluar tanpa disaring. "

