Dede menyandarkan punggungnya ke meja dapur kecil rumah di Tuscany itu. Sore mulai turun, cahaya keemasan masuk dari jendela, tapi suasana di dalam ruangan perlahan berubah. "Waktu kamu nelpon mamaku sore itu," ucap Dede akhirnya, datar. "Apa yang kamu ceritakan soal Valen?" Arsya mengernyit. Ia benar - benar terlihat bingung. "Cerita apa? Aku nggak tahu apa - apa soal Valen," jawabnya jujur. Dede tertawa kecil. Bukan tawa lucu, lebih seperti tawa yang penuh ejekan. "Nggak mungkin kamu nggak cerita apa - apa," katanya. "Udah lah, nggak usah membantah. Nggak ada yang kebetulan di dunia ini. Masa pas kamu nelpon, pas itu juga mamaku mengultimatum aku nggak boleh pacaran sama Valen. Nggak mungkin itu nggak ada campur tanganmu, Sya. Aku benar - benar nggak percaya. Aku tahu banget kamu ap

