"Hoek … hoek …" Suara Arsya sedang muntah yang terdengar jelas dari dalam kamar mandi membuat Dede yang sedang mengaduk nasi goreng di atas teflon langsung berhenti. Tangannya yang tadi lincah mengayunkan spatula mendadak kaku, sementara kepalanya menoleh cepat ke arah sumber suara. Aroma nasi goreng yang harum, dengan campuran bawang putih, kecap, dan sedikit minyak wijen, masih memenuhi dapur kecil itu, tetapi perhatian Dede sudah sepenuhnya berpindah. Tanpa pikir panjang, ia segera mematikan kompor. Api yang tadi menyala langsung padam, menyisakan wajan panas yang masih mengepul tipis. Dede bergegas berjalan menuju kamar mandi, langkahnya sedikit terburu, lalu mengetuk pintu dengan cemas. "Mas … kenapa?" tanyanya, suaranya naik setengah oktaf karena cemas. Dari dalam terdengar sua

