Damai

1900 Words

"Sayang… maaf, ya. Aku salah…" Suara Arman terdengar pelan di belakang Tanti, hampir seperti bisikan yang berhati - hati agar tidak terdengar memaksa. Ia tidak langsung menyentuh, hanya mendekat sedikit, memberi ruang kalau Tanti masih ingin menjauh. Tidak ada jawaban. Tanti tetap dalam posisi semula, membelakanginya, mata terpejam, tetapi napasnya tidak benar - benar teratur seperti orang yang sudah tertidur. Ia jelas masih terjaga. Arman menelan ludahnya, lalu memberanikan diri untuk melanjutkan. "Aku nggak seharusnya jawab seperti tadi pagi," katanya lirih. "Aku pikir aku lagi menjaga kamu, tapi ternyata cara aku salah…" Tanti tetap diam. Arman menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat, perlahan mengangkat tangannya, lalu ragu sejenak sebelum akhirnya menyentuh lengan Tanti dengan l

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD